Tuesday, March 19, 2013



Inilah saya, lahir di klaten pada tanggal 27 juni 1994 dari keluarga yang sederhana. Saya lahir bukan pada lingkungan yang memiliki kekuatan agama yang besar, namun masih hanya sebatas status yang mereka tuliskan pada KTP, Islam. Namun kegiatan-kegiatan agama sudah ada mengelilingi budaya diadaerah saya, mulai dari hari raya qurban, ied, puasa rhomadon, berzakat, dan yang lainnya, namun semua itu masih sebatas kebudayaan yang mereka miliki dari orang tau mereka, jadi mereka tidak mangetahui apa yang menjadi hakekat dari budaya yang dilakukan . Mungkin dari situlah penyebab semuanya dimulai. Semuanya mulai berubah  ketika seseorang mengawalinya, mungkin hanya beberapa orang yang sudah mengenal agama dengan baik, mengetahui hahekat yang mereka lakukan itu apa . Ada beberapa oarang yang muali berani berdakwah dilingkungan ini, mengajak pada islam yang sesungguhnya yaitu islam yang memiliki batin, yang memiliki kesungguhan dalam menjalankannya kerena setiap sesuatu yang dilakukan akan mendapat imbalan, baik sesuatu itu buruk akan mendapat imbalan, sesuatu itu baik juga akan mendapat imbalan. Salah satu orang itu adalah ayah saya, beliau dan kawan-kawannya mulai mensosialisasikan islam yang benar. Sudah bahasa lama ketika sesuatu yang baru itu akan ditolak, namun itu semua tidak membuat menyerah karena menyebarkan kebaikan itu adalah perintah. Kebudayaan islam yang bercampur dengan kebudayaan jawa membuat kesemuanya itu menjadi sulit untuk dirubah, terutama orang-orang tua atau kaum tua. Mereka tetap berpegang pada apa yang telah mereka miliki, karena mereka yakin bahwa itulah yang paling benar. Namun islam yang bercampur dengan kebudayaan jawa sekaligus juga menjadi celah yang bisa dimasuki, tidak menjadi sulit ketika mereka dikenalkan dengan sholat, membayar zakat, tentang puasa, kerena hal seperti itu talah mereka lakukan, hanya saja mereka belum seutuhnya memenuhi kewajiban itu, sehingga ketika kewajiban-kewajiban yang mereka lakukan itu disempurnakan tentu mereka menerima dengan baik. dan ternyata hal itu mulai diterapkan, mereka yang mempunyai masih mempunyai anjing, karena mereka tau jika masih ada anjing atau patung di rumah mereka maka malaikat tidak mau masuk, mereka mulai membuang anjingnya. Mulailah dibangun TKA/TPA untuk pendiidkan anak-anak, mulailah diadakan pengajian walau masih jarang, mulailah diadakan jamaah yasinan. Perubahan-perubahan kecil mulai terjadi yang tentunya mengarah pada hal bagus, mereka yang dahulunya masih meminum khomer mulai meninggalkannya, begitu pula judi. Mungkin dari situlah ceritaku akan dimulai.
Keluargaku memang bukan keluarga terpandang, karena bukan orang kaya ataupun orang pintar, atau orang yang memiliki pengaruh, namun semangat yang dimiliki ayahkulah yang mungkin menjadikan ini semua terjadi, menjadi memori kenangan dan juga jalan hidup yang melekat pada diriku.walaupun aroma islami mulai menyerbak, namun semua itu masih dalam batas, kerena pengetahuan akan islam masih sangat sederhana, masih sebatas lahir, ibadah-ibadah lahiriah, kewajiban- kewajiban lahiriah, namun pengetahuan spiritual akan kenyamanan hati ketika memeluk agama islam masih minim. Aku mulai masuk pondok pesantren, awal dari ceritaku yang baru.
Ketika aku ditawari untuk masuk pesantren, mungkin bukan hanya aku tapi kebanyakan anak akan menolak, begitu juga aku. Kerena pandangan setiap orang pada waktu itu pondok pesantren adalah tempat yang ketat, penuh peraturan, terkakang, mungkin bagi orangtua itu tempat yang bagus namun bagi pandangan anak-anak pesantren itu tmapat yang mengerikan. Setelah dibujuk dan dibujuk tentunya dengan sedikit memaksa karna ayah saya memang agak keras orangnya dengan rasa terpaksa saya mau. Toh katanya “dicoba dulu, belum tentu kamu gak suka kan?”. Aku menerima tawaran itu karena aku masuk pesantren  bersama sepupuku, yang waktu itu kelas dua SMP sedangkan aku kelas satu. Lokasi pesantren yang lumayan dekat dengan sekolahku, menjadi salah satu alasan kenapa aku mau masuk pesantren. Karena aku belum boleh membawa motor, jadi ketika itu aku berangkat dari rumah menuju ke sekolah dengan menggunakan sepeda, jaraknya lumayan, kata teman-temanku 5,5-6 km. Temanku yang sudah terbiasa tak merasa kesulitan bersepeda sejauh itu, tetapi bagiku rasanya kaki ini mau lepas tiap pagi dan siang naik sepeda dengan jarak sejauh itu. 45 menit sampai satu jam waktuku untuk menempuh jarak itu, mungkin ada yang bertanya,’ kok lama banget?’. Memang lama, karna jalannya bukan jalan yang lurus, tapi berkelok-kelok dan juga naik turun. Aku sekolah di daerah Cangkringan, Sleman. Entah tanggal berapa aku masuk pondok pesantren itu, tapi yang jelas, sore hari aku sowan pak kyai dan selang beberapa hari, sorenya aku datang lagi dengan membawa tas berisi baju dan buku. Setelah berbincang sedikit dengan pak kyai, ayahku meminta izin untuk berpamitan, kepada pak kyai dan tentunya kepadaku. Aku hanya mencium tangannya sambil tersenyum. Mungkin senyuman itu dapat sedikit menipu kalau sebenarnya aku ingin menangis. Dibantu teman-teman baruku aku mulai naik ke atas, karena kamarku di lantai dua. Mulai ku tata baju-bajuku di almari. Dan ketika itu, tak sengaja ada yang memanggil namaku, perasaan aku belum berkenalan dengan siapa-siapa, ternyata dia teman satu kelasku. Mulailah kami berbicara tentang ini dan itu, alasan kami masing-masing kenapa masuk pondok pesantren ini. Aku mulai nyaman dengan keadaan lingkungan ini. Sore itu ketika aku selesai menata barang-barangku, aku mencari kakak sepupuku, ternyata dia juga sedang berbincang dengan teman-temannya. Tenyata sudah banyak kenalan, sama, teman SMP juga. Malam pertama aku di pesantren. Adzan magrib mulai berkumandang, setiap santri mulai mengenakan baju adat meraka, sarung baju koko dan peci. Begitu pula aku, busana ala santri mulai kukenakan, yang tadinya celana jeans yang kukenakan aku lepas kuganti dengan sarung. Kami semua shalat berjamaah di satu masjid, tentunya dengan santri putri, karna masjid itu lumayan luas, berlantai dua. Sebenarnya berlantai tiga namun lantai tiga itu tidak digunakan. Hanya ada satu kamar, kamar pak kyai. Selesai shalat magrib berjamaah, kami semua mengambil alquran dan bergegas menuju suatu tempat di pinggir masjid, sedikit seperti ruangan terbuka, disitulah kami membaca alquran, tidak satu persatu namun berkelompok. Kelompokku tentu santri-santri baru, sekitar lima sampai tujuh orang. Kami mangaji secara tartil bersama-sama. Aku yang belum terlalu bisa membaca alquran merasa kesulitan mengikuti bacaan mereka yang lumayan lancar. Selesai mengaji alquran bersama-sama aku hanya menunggu sejenak ditangga dekat kamar, sambil menunggu apa yang selanjutnya akan dilakukan karena tidak ada jadwal yang tertulis yang bis aku baca. Terdiam lama, mereka mulai turun keserambi masjid dan aku pun mengikutinya. Iseng aku bertanya” mas, mau ada apa?”, “khitobah” jawab dengan singkat dan senyum. Dalm pikirku apa itu khitobah, aku pikir seperti kutbah jumat, karna besok pagi akan ada sholat jumat. Belum sempat aku bertanya lagi, tapi acara sudah dimulai. Aku mulai menyimak acara yang berlangsung, cukup meriah apalagi dipenuhi dengan penghuni-penghuni baru yang ingin tau. Lelucon-lelucon ala pesantren yang mereka keluarkan yang membuat suasana semakin mencair, membuat tertawa mereka yang mengerti. Aku juga tertawa, tapi tak begitu mengerti apa yang membuat mereka tertawa ketika kata-kata itu dikeluarkan, dan aku yakin teman-teman sebayaku yang baru tak mengerti pula. Suasana yang menyenangkan di malam itu. Kegiatan berakhir sekitar pukul setengah sembilan malam, dan rasanya mataku ingin menutup cepat, beda sekali dengan mereka yang sudah lama ada di pesantren, wajah segar masih tampak pada senyum dan tawa mereka. Malam itu kegiatan dilanjutkan dengan belajar bersama, berbeda sekali dengan keadaan dirumah, antualisme dalam belajar sangat tinggi. Belajar kami lakukan dikamar masing-masing. Tidak diharuskan belajar agama, namun belajar apa saja. Teman sekamarku adalah kakak kelas disekolah, jadi menjadi keuntunganku juga bisa bertanya jika aku kesulitan dalam masalah peajaran sekolah.
Malam itu juga aku tidur di pesanren, untuk yang pertama kali aku tidak bias tidur. Bayangan dirumah masih tetap ada, mungkin memang wajar yang biasanya aku tidur didekat orang tua sekarang aku tidur sendiri. Rasa tak nyaman terus muncul, berfikir besok ada apa, kegiatan apa, sekolahku bagaimana, semua terpikirkan dalam satu waktu. Terkadang airmata menetes tak terasa sambil sesegukan. Malam itu aku bias tidur walau agak larut malam. Rasanya belum lama tidur aku sudah dibangunkan oleh suara bel, sontak aku terbangun begitu juga sepupuku, lalu teman sekamarku memeberitau bahwa itu tanda waktu shubuh. Dingin terasa menusuk kulit, tapi tetap saja, semua santri bangun dengan mata masih sedikit menutup mereka mengambil air wudu bersiapa untuk sholat subuh berjamah. Ada beberapa yang belum bangun, mereka adalah kakak-kakak yang sudah lama si pesantren itu, namun ada saja pengurus pondok yang membangunkan mereka-mereka yang belum bangun. Pagi itu rutinitas berjalan, setelah sholat subuh, kami mengaji kitab. Kitab fiqih dan adab, itu bagi kami yang masih pemula, sedangkan untuk yang sudah agak lama entah kitab apa yang mereka gunakan. Selesai mengaji kami saling berebut masuk kamar, mengambil peralatan mandi. Maklum, kamar mandi di pesantren hanya beberapa, tapi yang memakai lumayan, jadi kami dengan sedikit terpaksa harus mangantri dengan sabar menunggu guliran. Mungkin itulah yang menjadi kenangan kami, canda dan tawa selalu keluar ketika ada kesempatan bersama seperti itu, walau sedikit menyebalkan, namun hal itu juga cukup menyenangkan. Selesai mandi, kami bersiap. Ada yang sudah rapi akan berangkat kuliah, ada yang memakai sragam sekolah, akupun tak ketinggalan mengenakan atribut sekolah. Hari pertama masuk kuliah dari pesantren. Mungkin sekilas bagi temanku yan belum tau aku dipesantren melihat aku biasa-biasa saja, tapi bagi mereka yang tau,sindiran selalu ada” pak kyai, pak kyai”. Tertawa kecil aku lemparkan menyambut canda dari teman-teman. Dikelaspun aku belajar dengan wajar, hanya pendangan mereka lebih berbeda kepadaku, lebih menghargai. Mungkin karena tau akuk ada dipesantren, namun semua itu tak membuat mereka menjauhiku. Justru aku semakin akrab dengan teman-teman, apalagi kakak kelas dari pesantren. Siang itu aku pulang bersama-sam berjalan bergerombol. Geng santri, itu sebutan untuk kami. Rasa tak ingin cepat sampai muncul ketika santri putrid berjalan dibelakang kami, memang sengaja kami berjalan lambat. Ada yang iseng menggoda mereka. Kebersamaan itulah yang aku dapat, rasa kekeluargaan, rasa menghargai, tidak ada golongan diantara kami, entah itu anak pejabat, PNS, petani, ataupun mereka yang kaya dengan yang miskin, semua sama tak ada yang membedakan. Hanya satu yang menjadi tolak ukur dari kami, yaitu kaepintaran dan pengetahuan ilmu.s
Seminggu, sebulan, dua bulan rutinitas itu terus berlanjut. Sekolah, mengaji, tidur. Sekolah, mengaji, tidur. Semua berjalan dengan baik, aku mendapat pengetahuan agama yang cukup banyak, mulai dari pengetahuan fiqih, adab, membaca alquran, tentang ketentraman hati. Semua itu membuatku lebih dewasa dibandingkan teman-teman sebayaku, yang mereka masih suka marah ketika permintaan mereka tidak dituruti orang tua mereka, aku mulai bias menerima ketika aku meminta sesuatu tapi orang tuaku tidak menuruti. Dan masih banyak yang lain hasil yang aku dapatkan dari beberapa bulan di pesantren, lingkungan yang begitu islami membuat diriku malu ketika aku berbuat buruk, dan mungkin hal itulah yang kemudian menjadi kebiasaan yang terus aku aku lakukan walau ketika dirumah. Aku hanya pulang ketika waktu libur-libur sekolah, itupun hanya beberapa hari, karna aku harus kembali ke pesantren. Namun semua pengalaman di pesantren itu memberikan hal yang sangat bermanfaat dihidupku, khususnya dalam pembentukan pola piker. Sekian dan semoga dapat bermanfaat.
Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh

0 komentar:

Post a Comment