Tuesday, March 19, 2013


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Dewasa ini obat-obat yang banyak digunakan oleh masyarakat adalah obat kimia, yang mana obat kimia tersebut dalam jangka waktu tertentu akan menimbulkan efek samping. Efek samping yang ditimbulkan dapat berupa ketagihan akan obat tersebut, kerusakan pada organ tubuh terutama ginjal karena ginjal sebagai penyaring dari setiap sari makanan yang masuk kedalam tubuh, dan efek yang paling berbahaya yaitu dapat menimbulkan penyakit kanker setelah jangka pemakaian obat lama. Semakin diketahuinya efek negatif dari obat-obatan yang merupakan hasil pencampuran bahan kimia, banyak masyarakat yang beralih pada obat-obatan tradisional.Selain memiliki harga yang lebih murah, obat-obatan tradisional dipercaya dapat menyembuhkan luka lebih cepat dan tidak memiliki efek samping bagi penggunanya. Pengembangan penelitian untuk mendapatkan obat tradisional yang tentunya berbahan alami tanpa bahan kimia terus dilakukan.
Banyak sekali obat-obatan yang dikembangkan dari bahan alami, tidak terkecuali obat luka luar. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk menyembuhkan luka adalah pogon pisang, dalam hal ini yang dimanfaatkan adalah getahnya. Pada saat teknologi belum berkembang dan masih minimnya obat-obat pabrik yang beredar. Dulu orang-orang memilih menggunakan benda atau bahan disekitarnya untuk menolong hidupnya, tak terkecuali pada pohon pisang. Konon para orang tua kita menggunakan getah anak pohon pisang untuk menyembuhkan luka. Mereka menganggap getah pohon pisang terasa dingin dan dengan cepat dapat menghilangkan rasa nyeri akibat luka, bahkan luka pun juga bisa tertutup. Menurut Priosoeryanto dalam artikelnya berjudul “Penyembuh Luka di sekitar Kita”, getah pohon pisang ternyata dapat meyembuhkan luka lecet. Bahkan getah pohon pisang memiliki keunggulan secara kosmetik, karena luka yang dioles getah batang pisang tidak meninggalkan parut. Berdasarkan hasil penelitian, senyawa fitokimia yang dimiliki oleh getah batang pisang tersebut dapat mempercepat penyembuhan luka.Dengan potensi besar dari komoditas pohon pisang di Indonesia, hal ini memungkinkan untuk dapat diproduksi secara komersial dan dalam jumlah yang besar sebagai pengganti obat penyembuh luka luar yang berasal dari campuran bahan kimia.

B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka  permasalahan yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah solusi yang dapat dilakukan untuk memudahkan masyarakat mendapatkan obat luka dari getah pohon pisang?
2.      Bagaimanakah mengoptimalan getah pisang sebagai obat luka luar alami ?
C.     TUJUAN
Adapun tujuan dari proposal ini adalah:
1.      Memberikan solusi yang dapat dilakukan guna memudahkan masyarakat dalam menggunakan obat luka dari gatah pisang
2.      Mengoptimalkan gatah pisang sebagai obat luka luar alami
D.    MANFAAT
Adapun manfaat dari proposal ini adalah
1.      Tulisan ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi masyarakat untuk menggunakan obat luka alami dari getah pohon pisang
2.      Tulisan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi masyarakat untuk dapat mengembangkan nilai mutu pohon pisang
3.      Tulisan ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi seluruh aspek sehingga dapat lebih memberdayakan kearifan lokal dalm pengembangan obat luka alami










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Pohon Pisang
Pisang merupakan salah buah yang sangat bergizi, terdiri atas air (75%), protein (1.3%) dan lemak (0.6%). Tiap buah pisang juga mengandung karbohidrat dan potassium dalam jumlah cukup. Di samping itu pisang mempunyai banyak manfaat diantaranya adalah sebagai peyembuh banyak penyakit seperti demam, gangguan sistem kerja pencernaan, kejang-kejang, dan terkilir. Tingginya jumlah potassium yang dikandungnya (0.24%) memfasilitasi pembuangan ampas dari tubuh (Gobelez at.al, 1973: 21).
Pisang merupakan tanaman asli daerah Asia Tenggara. Tanaman dari suku Musaceae inimerupakan tanaman yang serba guna, mulai dari akar sampai daun dapat dimanfaatkan. Seperti negara Asia Tenggara lainnya, tanaman ini banyak ditemukan di Indonesia, terutama di daerah yang banyak mendapat sinar matahari. Produksi pisang di Indonesia cukup besar, bahkan Indonesia menjadi salah satu penghasil pisang terbesar di dunia. Produksi pisang nasional terus meningkat setiap tahun, misalnya dari 2.308.379 ton (tahun 1988) menjadi 2.417.760 ton (tahun 1989). Daerah penghasil pisang terbesar berada di Pulau Jawa (kwartiningsih, endang. Dkk.2010).
Pohon pisang bisa mencapai ketinggian 3 m. Batangnya yang berupa batang semu berpelepah berwarna hijau sampai coklat. Jantung pisang yang merupakan bunga pisang berwarna merah tua keunguan. Di bagian dalamnya terdapat bakal pisang. Bonggol pisang merupakan bagian pisang yang mempunyai nilai ekonomis rendah. Masyarakat kebanyakan tidak memanfaatkan bonggol pisang. Secara umum pemanfaatan tanaman pisang sudah dimulai sejak zaman dulu( Djulkarnain HB, 1998:12). Pisang yang memiliki nama ilmiah Musa paradisiaca merupakan1komoditi hortikultura yang termasuk dalam pengembangan buah unggulan Indonesia. Produksi pisang di Indonesia secara agregat menduduki peringkat 8 besar di dunia. Permintaan komoditas pisang meningkat seiring waktu. Pertumbuhan konsumsi pisang dunia adalah sebesar 1,9% pada tahun 1999. Produksi pisang nasional dikonsumsi dalam level nasional sebesar 90% (Surya.2009). Linius (2010: 1) menjelaskan produksi pisang dibawah ancaman dan faktor iklim yang berbeda dan agen patogen seperti nematoda, bakteri, dan jamur. Seperti dikatakannya,” Banana production is under threat fromdifferentclimatic factors and pathogenic agents such asnematodes, bacteria, viruses, and fungi”.
Sampai sekarang, masih jarang sekali masyarakat memanfaatkan bonggol pisang ini, padahal selain untuk bahan makanan karena mengandung amilum yang tinggi yaitu 66,2%, juga dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan alkohol. Alkohol tersebut dapat berfungsi sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM). Alkohol yang diperoleh tersebut juga dapat dipergunakan sebagai bahan industri kimia, bahan kecantikan dan kedokteran (Maiwahyudi, 1983: 25). Disamping itu bonggol pisang juga mengandung banyak cairan (getah) yang bersifat menyejukkan dan berkhasiat menyembuhkan luka. Bila seseorang mengalami luka akan terjadi kerusakan kulit, jaringan otot, bahkan sampai tulang. Luka baru yang tidak segera diobati dan dibiarkan terbuka, luka tersebut akan menjadi bernanah (lesi). Hal ini disebabkan adanya bakteri yang menginfeksi pada luka tersebut. Bakteri yang sering menginfeksi luka diantaranya adalah Staphylococcus aureus. Banyak orang yang mencari alternatif lain yang lebih murah dengan beralih ke obat tradisional yang berasal dari alam sekitar. Hal ini disebabkan karena obat tradisional memiliki efek samping yang relatif lebih sedikit dibandingkan dengan obat modern. Bahkan alam yang dipercaya berkhasiat untuk mengobati luka salah satunya adalah getah batang pisang (Musa paradisiaca L) yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan luka. Zat kimia yang terkandung dalam getah pohon pohon pisang ini bersifat antiseptik(Febram, 2010: 122).
Pada pohon pisang terdapat berbagai kandungan yang dapat memberi manfaat bagi kita. Di dalam getahnya terdapat kandungan “saponin, antrakuinon, dan kuinon yang dapat berfungsi sebagai antibiotik dan penghilang rasa sakit (Wijaya kusuma, 1998:13).
 Selain itu, di dalam getah pisang juga terdapat kandungan lektin yang berfungsi untuk menstimulasi pertumbuhan sel kulit. Kandungan-kandungan tersebut dapat membunuh bakteri agar tidak dapat masuk pada bagian tubuh kita yang sedang mengalami luka. Getah bonggol pisang bersifat mendinginkan. Zat tanin pada getah batang pisang bersifat antiseptik, sedangkan zat saponin berkhasiat mengencerkan dahak. Pisang, terutama pisang raja, mengandung kalium yang bermanfaat melancarkan air seni. Selain itu, juga mengandung vitamin A, B, C, zat gula, air, dan zat tepung (Gunawan, D dan Mulyani, 2004: 77).Kandungan lignin pada batang pisang membantu peresapan senyawa pada kulit sehingga dapat digunakan untuk mengobati luka memar, luka bakar, bekas gigitan serangga, dan sebagai antiradang.
Beberapa pengujian secara ilmiah mengenai khasiat dari pohon pisang untuk persembuhan luka pernah dilaporkan. Salah satunya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Listyanti (2006) bahwa getah batang pohon pisang Ambon (Musa paradisiaca var sapientum) yang digunakan pada proses persembuhan luka menggunakan hewan coba mencit memperlihatkan hasil yang memuaskan. Selain mempercepat persembuhan luka, secara histologik juga memberikan efekkosmetik dengan memperbaiki struktur kulit yang rusak tanpa meninggalkan jaringan bekas luka atau jaringan parut dan mempercepat proses reepitelisasi jaringan epidermis, pembentukan buluh darah baru (neokapilarisasi), pembentukan jaringan ikat (fibroblas) dan infiltrasi sel-sel radang pada daerah luka.
B.     Luka
Luka adalah rusaknya kesatuan/komponen jaringan, dimana secara spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang. Luka dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, misalnya luka lecet yaitu luka karena terkelupasnya kulit yang tidak dalam, dapat disebabkan bergesekan dengan benda tajam maupun tumpul. Luka ini juga dapat disebabkan karena kecelakaan lalu lintas(Sitepoe, 1996: 77).
Ketika luka timbul beberapa efek akan muncul :
1.      Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
2.      Respon stres simpatis
3.      Perdarahan dan pembekuan darah
4.      Kontaminasi bakteri
5.      Kematian sel(Irman Somantri. 2007)
Tubuh secara normal akan memberikan respon terhadap cedera dengan  jalan “proses peradangan”, yang dikarakteristikkan dengan lima tanda utama: bengkak (swelling),kemerahan (redness), panas (heat), nyeri (pain) dan kerusakan fungsi (impaired function). Proses penyembuhannya mencakup beberapa fase:
1.      Fase Inflamasi
Fase inflamasi adalah adanya respon vaskuler dan seluler yang terjadi akibat perlukaan yangterjadi pada jaringan lunak.
2.      Fase Proliferatif
Proses kegiatan seluler yang penting pada fase ini adalah memperbaiki dan menyembuhkanluka dan ditandai dengan proliferasi sel. Peran fibroblas sangat besar pada proses perbaikanyaitu bertanggung jawab pada persiapan menghasilkan produk struktur protein yang akan digunakan selama proses reonstruksi jaringan.
3.      Fase Maturasi
Tujuan dari fase maturasi adalah menyempurnakan terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan bermutu ( Prabu, 1996: 2).


















BAB III
METODOLOGI
A.    Metode Penulisan
1.      Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan sebagai bahan analisis didapatkan dari
a)      Studi Pustaka
Studi pustaka digunakan sebagai landasan teori dan pijakan penulis dalam menganalisis masalah yang dikaji. Studi pustaka didapatkan dari artikel dari internet, teori dan pendapat para ahli baik dari buku, jurnal, skripsi maupun hasil penelitian.
b)      Pengamatan fenomena
Hasil pengamatan terhadap fenomena yang terjadi digunakan sebagai titik tolak terhadap pembahasan suatu masalah. Pengamatan ditujukan pada fenomena bahwa adanya efek samping dari obat oles berbahan kimia yang banyak dijual di pasaran. Padahal banyak bahan alternatif alami yang dapat dimanfaatkan. Selain itu nilai ekonomis pada obat penyembuh luka yang relatif mahal, sehingga perlu dikembangkan pemanfaatan obat luka berbahan alami seperti dari getah bonggol pisang yang tentunya mudah didapat dan memiliki nilai ekonomis yang lebih baik.
2.      Pengolahan Data
Langkah selanjutnya dalam penulisan karya tulis ini adalah dengan mengolah dan menulis semua data yang diperoleh secara runtut dan sistematis menurut pedomanpebuatan proposal gagasan tertulis
3.      Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam karya tulis ini adalah deskriptif kualitatif, yaitu menganalisis masalah yang ada berdasarkan data-data yang ada di berbagai media maupun studi pustaka sehingga disini tercipta suatu kesimpulan data yang bisa diuji kebenarannya. Penulis mendeskripsikan data dengan cara menjelaskan kandungan getah bonggol pisang yang dapat menyembuhkan luka lecet. Penulis kemudian bisa menganalisis bahwa luka lecet dapat disembuhkan oleh getah bonggol pisang sehingga menjadi bahan obat luka alternatif yang tidak berbahaya.

4.      Penarikan Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh disesuaikan dengan pembahasan dalam karya tulis.
B.     Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka penggunaan getah batang pohon pisang sebagai obat persembuhan luka memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan. Melihat begitu banyaknya persebaran populasi pohon pisang di Indonesia tidak menutup kemungkinan obat herbal dari getah pohon pisang ini dapat diproduksi secara penuh, melihat belum ada negara lain yang memperhatikan hal ini secara penuh. Berdasarkan hasil penelitian penyembuhan luka luar dengan bantuan getah pisang lebih cepat dan juga memiliki nilai kosmetik yaitu dapat meminimalisir bekas luka yang tercipta dari luka tersebut. Penggunaan obat luka dari pohon pisang ini dapat digunakan secara langsung yaitu dengan cara dioleskan, namun ketika obat ini dibutuhkan segera, tidak semua orang dapatmengaksesnya. Melihat permasalahan itu,produksi obat herbal dari getah pohon pisang ini memiliki peluang yang cukup luas karena kebutuhan akan obat luka luar masih sangatlah tinggi. Selain itu jumlah kebutuhan pisang terus meningkat. Guna mengoptimalkan pemanfaatan pisang maka dapat dilakukan hal tersebut diatas.

Daftar Pustaka
Djulkarnain HB.1998. Pohon Obat Keluarga. Jakarta: Intisari.
Febram, Bayu dkk.( 2010). ACTIVITY OF AMBON BANANA (Musa paradisiaca var. sapientum) STEM EXTRACT IN OINTMENT FORMULATION ON THE WOUND HEALING PROCESS OF MICE SKIN (Mus musculus albinus). Majalah Obat Tradisional ( Nomor 3 tahun 2010) halaman 121-137.

Gobelez, M., et.al. 1973. Nutriments and Health. Ankara. Mars Printing House.
Gunawan, D dan Mulyani, 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid 1. Jakarta: Penebar
Swadaya.

Kwartiningsih, endang. Dkk. 2010.Pemanfaatan getah berbagai jenis dan bagian dari pohon pisang sebagai zat pewarna alami tekstil. Ekuilbirium. vol.9. no.1. halaman : 5-10.

Linius, Umezuruike. dkk. 2010. Analysis of genetic diversity in banana cultivars (Musa cvs.) from theSouth of Oman using AFLP markers and classification byphylogenetic, hierarchical clustering andprincipal component analyses. Journal of Zhejiang University-SCIENCE B (Biomedicine & Biotechnology) (Nomor 5 tahun 2010). hlm 332-341.

Listyanti AR. 2006. Pengaruh Pemberian Getah Batang Pohon Pisang Ambon (Musa parasidiaca var. Sapientum) dalam Proses Persembuhan Luka pada Mencit (Mus musculus albinus). Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.
Maiwahyudi. 1999. Aktivitas getah batang pohonpisang (Musa acuminata) dalammempercepat proses persembuhan lukapada mencit (Mus musculus).Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Prabu, BDR. 1996. Penyakit-penyakit Infeksi Umum Jilid 1. Jakarta: Penerbit Widya Medika.
Priosoeryanto,dkk. 2006. Aktifitas getah batang pohon pisang dalam proses persembuhan luka dan efek kosmetiknya pada hewan. Bogor:IPB Press.

Sitepoe, M. 1996. Penyakit. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Somantri. 2011. efek samping yang timbul akibat lukahttp://somantri.blogspot.com/2011/07/13/efek-samping-yang-timbul-akibat-luka. diakses pada tanggal 15 Desember 2012.

Surya.2009.khasiat bonggol pisang. http://www.surya.co.id/2009/06/22/khasiat-bonggol-pisang.diakses pada tanggal 20 Desember 2012 pukul 20.30 WIB.

Wijayakusuma, H. 1998. Pisang berkhasiat obatIndonesia, Manfaat dan PenggunannyaRempah,rimpang,dan umbi.Jakarta: Milenia Populer


 

0 komentar:

Post a Comment